Hello^^
Buku ini berkisah tentang seseorang yang ingin bunuh diri karena di-bully dan depresi yang dipelihara sejak dini. Menyajikan kisah mendalam dengan sederhana. Tanpa memaksakan alur dan nuansa yang rumit. Semua berjalan seperti kehidupan kita: apa adanya.
Perpaduan gaya penulisan jenaka namun kritis membalut kisah yang membuat hati bergetar. Alur yang mendalam tetap terasa normal dan lumrah. Menurutku, inilah kekuatan novel ini.
Kisah di dalam Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati sebenarnya kompleks. Ada isu kesehatan mental, kriminalitas, hingga isu sosial. Namun semua isu ini dihantarkan dalam kesederhanaan. Ini salah satu novel yang membuatku "nyaman".
TENTANG BUKU
Buku : Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati
Penulis : Brian Khrisna
Penerbit : Grasindo
tahun Terbit : 2025
Hal : 210
Rate : 9,7/10
QUOTES
“Tapi matematika Tuhan tidak pernah bisa dijelaskan oleh otak manusia. Kita terlalu ringkih untuk bisa mengerti bagaimana cara takdir Tuhan bekerja.”
“Hidup bakal jadi lebih gampang kalau kita sudah bisa belajar untuk menerima kekecewaan dan melihatnya sebagai sebuah berkah yang asing.”
TOKOH
Dia adalah Ruslan Abdul Wardhana. 37 tahun. Belum menikah. Tinggi 189 cm, berat 138 kg. Hitam, legam, dan lemak di badan yang besar daripada tulang itulah ia disebut gendut. Gendut sama dengan bau (aku nggak menghina ya, ada dalam novelnya).
Biasa dipanggil Ale, blek, babon, maskot Dufan, bebek air, dan segala penamaan keji yang disematkan kepadanya.
Ale tinggal sendiri di ibukota, sebuah apartemen Tower 20, lantai 34a, SCBD Parking Lot 17.
Ia karyawan tetap, yang kerja dari pukul 9 pagi hingga 5 sore, di salah satu gedung perkantoran di tengah ibukota, Mega Kuningan.
PESAN MORAL
Untuk kalian yang ingin mengakhiri hidup hanya karena bingung bagaimana menghadapi dunia yang begitu keras, jangan cepat-cepat mengambil keputusan untuk bunuh diri. Pikirkan orang-orang yang sayang dan peduli sama kalian, mereka semua akan merasa kehilangan kita dan akan terus-terusan merasa sedih bahkan tersiksa dengan kepergian kita. Jika ada masalah, cari teman untuk bercerita, jangan pendam semuanya sendirian. Terakhir “Stop Bullying” secara berlebihan dan menyakiti hati manusia. Tetaplah hidup, kalian harus punya alasan-alasan sederhana yang membuat selalu semangat dan ingin terus hidup ini berlanjut. Sesederhana menyantap mie ayam di esok hari contohnya.
Satu hal lagi, bahwa lebih dari sekadar berpikir positif, kunci bertahan hidup adalah menerima kenyataan—bahwa tidak semua hari akan berjalan baik, tidak semua rencana akan mulus, dan tidak semua orang akan membalas kebaikan dengan kebaikan.
REVIEW
Buku ini memberi penggambaran situasi kerasnya kehidupan kota besar, ditulis dengan gaya dialog slice of life. Banyak kalimat yang mengandung makna begitu dalam dan relate di zaman yang dimana people are waking up to mental health awareness. Tapi memang ada kata-kata frontal dan kasar penuh penekanan yang digunakan. Alur ceritanya memfokuskan pada perjalanan penyintasan dan pengembangan karakter Ale, jadi ada beberapa part yang menggantung namun jawabannya bisa tertebak secara tidak langsung.
Bukan sekedar tentang drama kehidupan, buku ini memberi ruang untuk kita merenungi bahwa terkadang kita ingin melakukan hal yang besar agar terlihat hebat oleh orang lain. Ketika kita gak bisa memenuhi ekspektasi orang sekitar, kita jadi menutup diri hingga tidak bisa melihat hal-hal yang lebih berarti yang telah kita lakukan.
Ale seorang pekerja kantoran yang merasa dikucilkan dan tidak dihargai, lelah menjalani kehidupan yang menurutnya monoton, tidak mempunyai tujuan yang memberinya semangat, semua rencananya tidak pernah berjalan sesuai keinginannya, bahkan menderita DDS. Ale mempunyai niatan untuk mengakhiri hidupnya sendiri hingga terbesit dibenaknya untuk membeli seporsi mie ayam langganannya untuk yang terakhir kali.
So, bagaimana akhirnya? Berhasilkah Ale mati? Pada penasaran kan dengan kelanjutan ceritanya? Temukan sendiri kisah lengkapnya di "Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati". Novel ini wajib kamu baca, karena hidup itu berharga! Selamat membaca^^


