Hello^^
Sebagai salah satu buku yang sempat hits di Indonesia, buku ini memiliki judul menarik yang membuat banyak orang semakin penasaran dengan kisah di balik buku dengan cover pink ini. Kisah Baek Se Hee yang menarik ini bahkan pernah direkomendasikan oleh idol KPop RM BTS, S.Coups SEVENTEEN, Hyunjin Stray Kids, dan lainnya.
Cover-nya sederhana sekali, ada ilustrasi perempuan lagi meleyot, tapi masih ada usaha buat makan cemilan khas Korea Selatan ini, ya. Tteokbokki. Hahaha.. jujur liat buku ini, aku berpikir aku bakal punya alasan sepele seperti model cover-nya. Mau mati banget, tapi Tteokbokki masih menggoda. Makanya mungkin... buku ini bakal menuntun aku buat mengetahui makna mendalam kenapa harus tetap bertahan hidup? Mungkin bisa punya alasan sederhana juga kaya Tteokbokki ini?
PROFIL PENULIS
Nama Baek Se Hee kini sudah semakin mengudara karena tulisan-tulisannya yang banyak dicintai para pembaca yakni I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki satu dan dua. Penulis asal Korea Selatan ini merupakan perempuan kelahiran Februari 1990 tepatnya di Seoul.
Buku pertamanya yang dirilis pada 2019 lalu langsung meraih best seller di Korea, yang akhirnya diterjemahkan dalam banyak bahasa termasuk bahasa indonesia. Sebelum kini menjadi sosok yang menginspirasi banyak generasi muda, Baek Se Hee sendiri pernah mengalami masa kelam hidupnya.
Dirinya pernah mengalami depresi berkepanjangan dan setelah melakukan pengobatan serta terapi untuk jangka yang cukup lama barulah Baek Se Hee mampu benar-benar bertahan dan sembuh dari kesulitannya selama ini.
Menulis kisahnya sendiri merupakan salah satu self healing Baek Se Hee dengan menceritakan semua apa adanya. Tulisan tersebut pun dirasa cukup baik dan diterbitkannya dalam buku berjudul I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki.
Berawal dari menulis ringan yang menjadi salah satu terapi untuk dirinya sendiri, justru membawa banyak keberuntungan lain yang merubah kehidupan Baek Se Hee kini. Saat ini dirinya sebagai penulis kembali menerbitkan karya keduanya sebagai lanjutan dari buku pertama.
#1
#2
PROS
Menurutku, kelebihan buku ini adalah bentuknya yang berupa percakapan. Metoda tanya dan jawab dalam buku ini membuatku lebih mudah menikmatinya, seperti memperhatikan orang mengobrol. Hampir seluruh buku ini memiliki tata bahasa sehari-hari alias nggak rumit. Definisi santai yang sebenarnya. Selain itu, beberapa kalimat dalam buku ini juga dicetak dengan efek stabilo, itu memudahkan aku untuk memahami inti percakapan mereka. Di akhir bab ada semacam kesimpulan atau rangkuman yang dibuat penulis untuk memudahkan pembaca memahami akhir dari sesi konsultasinya dengan psikiater.
Sebagai buku motivasi, buku karya Baek Se Hee ini bisa dikatakan memiliki keunikan yang menjadi daya tarik tersendiri. Mulai dari judulnya yang terkesan menggelitik, juga isi dalam buku yang rupanya memiliki pesan yang amat baik.
CONS
Mengingat buku ini lebih cenderung sebagai catatan pengobatan antara pasien dan psikiaternya sehingga akan menemukan beberapa istilah kedokteran atau beberapa istilah psikiatri yang asing dan nggak dijelaskan dengan gamblang, sehingga agak sulit dipahami bagi mereka yang tidak berkecimpung di dunia serupa.
Beberapa kata juga tampak memiliki makna yang sedikit ambigu, hal ini disebabkan karena sebagai buku terjemahan ada beberapa kata yang mungkin masih sulit diartikan. Akan tetapi hal tersebut tidak mengurangi makna yang ingin disampaikan oleh penulis pada para pembacanya. Sehingga secara keseluruhan inti dari buku tetap tersampaikan dengan baik.
Mungkin ada beberapa part yang seperti terlalu cepat berganti topik satu ke topik lain dalam sekejap mata. Sehingga pembaca yang sedang fokus pada topik sebelumnya bisa kaget dengan bergantinya topik terlalu tiba-tiba baik dari si "aku" atau jawaban sang ahli sendiri.
REVIEW
Membaca judulnya, kita mungkin bisa menyimpulkan bahwa buku ini seperti buku motivasi yang lucu. Namun sebenarnya kisah yang ditulis di dalamnya jauh dari hal tersebut. Baek Se He mengajak para pembaca melihat sebuah situasi tentang pengalaman depresi melalui sudut pandang dirinya.
Pesan moral yang bisa dipelajari setelah membaca buku I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki ini : tidak perlu membandingkan diri, bahagia itu sederhana, pahami dan cintai diri sendiri, dan bersyukur.
Satu hal yang perlu diingat, bahwa kita bukan satu-satunya orang yang mengalami kesedihan serupa di dunia ini. Bisa jadi ada banyak orang lain diluar sana yang mengalami masa yang lebih sulit. Maka dari itu hal yang kita perlukan saat sedang dilanda kesedihan hanyalah rasa syukur.
Untuk kategori buku self-healing, buku ini termasuk buku yang aku rekomendasikan, khususnya untuk 18+, untuk mereka yang suka jadi tempat curhat atau malah jadi pendengar curhatan orang lain—maka membaca ini akan terasa enjoy dan nggak ngebosenin. Buku ini juga cocok untuk beberapa orang yang butuh buku tentang self acceptance, ada referensi alasan mengapa kita nggak seharusnya mengakhiri hidup sebelum waktu tenggatnya datang. Selamat membaca!




Tidak ada komentar:
Posting Komentar